• (024) 6723456
  • sisteminofrmasi-s1@stekom.ac.id

Cara yang paling sederhana untuk mengkodekan bit ke dalam sinyal adalah dengan memetakan bit 1 dengan high-signal sementara bit 0 dengan low-signal. Cara inilah yang digunakan dalam skema pengkodean NRZ (Non-Return to Zero).

 

Gambar 11?2 Contoh pengkodean dengan skema NRZ

 

Dengan penggunaan skema NRZ, jika ada sejumlah bit 1 yang muncul secara berurutan, maka sinyal akan tetap berada pada posisi high selama selang waktu tertentu. Demikian juga jika muncul sejumlah bit 0 secara berurutan, maka sinyal akan tetap pada posisi low selama selang waktu tertentu. Hal ini berakibat pada timbulnya beberapa masalah, diantaranya :

·         Sinyal low yang terjadi terus-menerus dapat diartikan juga sebagai tidak adanya sinyal. Dengan demikian, node penerima tidak dapat membedakan antara urutan bit 0 yang panjang dengan putusnya link.

·         Sinyal high yang terjadi terus-menerus dapat membingungkan penerima, karena node tersebut menggunakan level sinyal rata-rata (disebut baseline) untuk membedakan antara sinyal high dan low. Terlalu banyak bit 1 yang muncul berurutan akan berakibat pada berubahnya nilai rata-rata ini (situasi ini dikenal dengan sebutan baseline wander).

·         Perubahan yang sering terjadi antara high dan low diperlukan untuk menjamin bisa dilakukannya clock recovery. Masalah ini muncul karena proses encoding dan decoding keduanya dipandu oleh clock (tiap clock cycle, sumber mengirimkan bit dan tujuan menerima bit). Clock pada sumber dan tujuan harus benar-benar sesuai (sinkron) agar tujuan dapat menerima bit yang sama dengan yang dikirmkan oleh sumber. Jika clock di tujuan berbeda sedikit saja dari clock pada sumber, maka sinyal tidak akan dapat di-decode dengan benar. Memang bisa saja diambil pendekatan lain, dimana sinyal clock dikirimkan ke tujuan menggunakan jalur (link) yang berbeda dengan data, namun hal ini tidak dilakukan karena akan memboroskan link. Dengan demikian, tujuan harus bisa mendapatkan sinyal clock dari sinyal yang diterima (proses ini dinamakan clock recovery). Saat terjadi perubahan sinyal (transisi dari bit 1 ke 0 atau sebaliknya), maka tujuan menyimpulkan bahwa saat itu adalah batas dari clock cycle dan dapat mensinkronkan clock-nya dengan yang digunakan oleh sumber. Jika ada periode yang cukup panjang dimana tidak ada perubahan atau transisi sinyal, maka sangat mungkin terjadi pergeseran clock (drift). Proses clock recovery sangat tergantung pada banyaknya transisi sinyal yang terjadi, terlepas dari data yang sedang dikirimkan.

 Copyright stekom.ac.id 2018 All Right Reserved